Berkurangnya Cadangan Energi Fosil
Energi fosil (bahan bakar fosil) adalah sumber energi yang tidak dapat diperbaharui dan dalam jangka panjang akan habis jika terus menerus digunakan tanpa adanya batasan penggunaan (non-renewable), sumber energi fosil yang ada antara lain seperti gas, batu bara dan minyak bumi. Saat ini permintaan akan bahan bakar tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat, yang mana imbasnya akan berpengaruh secara signifikan terhadap kenaikan harga bahan bakar fosil tersebut, ini akan mengakibatkan tidak adanya stabilitas keseimbangan antara penawaran dan permintaan, maka dari itu salah satu upaya dalam mengurangi atau menghemat penggunaan bahan bakar adalah dengan membuat energi alternatif yang dapat diperbaharui (renewable) seperti mengembangkan potensi energi terbarukan (Febiyanita, 2015). Energi fosil, seperti batu bara dan minyak bumi adalah energi yang dalam jangka panjang dapat merusak lingkungan, sehingga diharapakan pengembangan potensi energi terbarukan yang mana adalah sebuah energi yang dapat didaur ulang atau diperoleh kembali penggunaannya agar dapat dikelola secara optimal. Sumber energi terbarukan ini berasal dari sumber energi yang ramah lingkungan, dimana energi tersebut tidak banyak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global (global warming). Dengan adanya permasalah ini pemerintah dan masyarakat luas dituntut untuk mencari solusi bagi permasalahan yang sedang terjadi saat ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat luas untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar yang sifatnya non-renewable adalah dengan menciptakan energi alternatif pengganti bahan bakar minyak fosil yang ramah lingkungan/terbarukan (renewable). Upaya ini dilakukan agar ketersediaan pasokan bahan bakar minyak dapat tetap terjaga stabilitasnya (Febriyanita, 2015).
Bahan bakar yang bersifat terbarukan (renewable) memiliki keunggulan tersendiri, yaitu harga yang relatif murah, bersifat netral karbon, tidak mengandung gas metana yang berlebih, dan umumnya tidak menimbulkan polusi udara. Adapun bahan bakar yang bersifat terbarukan antara lain berupa biogas, biofuel, briket arang, dan lain-lain dimana bahan bakar terbarukan ini dianggap layak sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan dari segi teknis, lingkungan, dan ekonomi yang bertujuan untuk memenuhi kekurangan pasokan sumber energi dan dalam jangka panjang dapat menjadi pengganti BBM di masa yang akan datang (Utomo dkk, 2014). Biogas, biofuel dan briket arang memiliki kesamaan yang serupa hanya saja dalam pengertian biogas adalah salah satu hasil dari konversi biomassa yang berasal dari kotoran makhluk hidup. Berbeda dengan biogas, biofuel adalah bahan-bahan organik yang berumur relatif muda yang berasal dari tumbuhan/hewan, produk/sisa panen dan limbah industri budidaya pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan atau perikanan. Sedangkan briket arang adalah hasil konversi dari sisa sekam padi, jerami, serbuk gergaji dan lain-lain yang mana bahan bakar ini melalui proses pembakaran anaerobik tidak sempurna sehingga tidak sampai menjadi abu dicampur dengan perekat, dipadatkan dan kemudian dikeringkan. Jadi, tidak bisa diragukan, bahwa di Indonesia banyak sekali dijumpai bahan-bahan dasar untuk pembuatan energi alternatif terbarukan yang memiliki manfaat sangat besar apabila dikembangkan dengan sangat optimal.
Masalah krisis energi : terkait berkurangnya cadangan energi fosil
Gagasan: dapat dilakukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan biogas dalam skala kecil atau industri rumah tangga
Keuntungan:
dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sehingga penggunaan bahan bakar fosil bisa dikurangi
bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga karena mengurangi pengeluaran untuk pembelian gas LPG
menjadi alternatif pengolahan limbah rumah tangga atau mungkin kotoran ternak agar tidak langsung dibuang ke lingkungan.

Komentar
Posting Komentar